doraemonluphu

doraemonluphu

Senin, 02 Januari 2012

Adab makan Ala Rasullullah SAW

Bismillah...

Treeeeeeett.................. treeeettttttttttttttt........ treeet..........................

“horeeee..... pulang, pulang, pulang...!!!” teriak opik dari dalam kelas.
Seperti anak SD lainnya,, jam 12 itu adalah hal yang paling di tunggu-tunggu oleh opik. Opik adalah siswa SD kampung Bambu 3, dan dia itu adikku.. J Setelah bel pulang sekolah berbunyi, dia langsung cepat-cepat pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, nafasnya sudah terengal-engal karena buru-buru menggoes sepeda mungilnya.

“assalamu’alaikum.... huf huf huf huf huf !!!!!......” salam opik kepadaku. Dia langsung lari ke dapur mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin. “glek..glek..glek..” sesudahnya dia mengambil piring dan segera makan.

“wa’alaikumsalam,,, eh, eh eh.. adikku kok pulang sekolah begitu??” tanya ku

“oia, salim dulu.... copot kaos kaki, cuci tangan cuci kaki, ganti baju .. emang kenapa sih mba begitu??” tanya opik penasaran

“emangnya mau kalo masuk rumah sama makan mau ditemenin setan?? Klo mba uyung sih ga mau deh...” jawabku..

“iiiiiihhhhhhhh.... setan kan serem mba,, aku ga mau ditemenin setan! Caranya gimana??” tanya opik

“nih, dengerin ya, adab-adab makan ala rasullullah SAW.."

  • Kalo mau mulai makan, selalu dan jangan lupa baca “Bismillah” dan berdo’a. Kalo kita lupa dan dipertengahan makan baru ingat bacalah “bismillahi awwalahu wa aakhirahu”.  Karena semua makanan ini adalah berkah dari Allah 
  • Mengakhiri makan dengan pujian kepada Allah “alhamdulillah..” dan berdo’a sesudah makan. Tau do’anya kan?
  • Hendaknya makan dengan 3 jari tangan kanan. Seperti itulah rasul mencontohkan kepada kita, rasul makan dengan tangan kanan karena kanan itu adalah baik, dan makan dengan 3 jari dimaksudkan agar makanan yang dimasukkan ke mulut kita itu tidak berlkebihan. Faktanya, ternyata di tangan kita itu terdapat beribu-ribu bakteri yang dapat membantu proses pencernaan makanan dalam tubuh kita lho. Jadi, saluran pencernaan ga kerja terlalu berat kan.. 
  • Sesudah makan, hendaknya menjilati jari jemarinya sebelum mencuci tangannya 
  •  Jangan makan dan minum sambil berdiri!. Dari pelajaran patofisiologi, terdapat katup diantara lambung dan kerongkongan, saat kita berdiri katup akan tertutup, sehingga makanan dan minuman tidak akan bisa makan masuk ke lambung. Sedangakan saat kita duduk, katup itu akan terbuka lagi. 
  •  Kalo makanan jatuh ke tanah, dan keadaanya tidak terlalu kotor, ambilah makanan itu dan buang bagian kotornya, lalu makan lah bagian yang masih bersih. Mubazir kan jadinya.... tapi kalo kotor banget, yaa dibuang ke tempat sampah yaa.. 
  •  Jangan meniup makanan dan minuman yang masih panas. Dari segi kimia, ternyata apabila makanan dan minuman panas itu akan megeluarkan senyawa H2O, apabila senyawa ini bersatu dengan gas CO2 yang keluar dari tiupan nafas kita, akan menjadi senyawa HCO3 (asam karbonat) yang akan menyebabkan toksik di tubuh kita.. jadi jangan ditiup ya, mending di angin-anginin aja.. 
  •  Apabila saat minum ingin bernafas, bernafaslah di luar gelas. Rasul mencontohkan saat meminum air, beliau membaginya dalam 3 tegukan.
  • Maka pilihlah makanan yang terdekat  terlebih dahulu. 
  •  Dahulukan orang yang Lebih Tua untuk mengambil makanan. Hormatilah orang tuamu.. 
  •  jangan mengawasi orang lain yang sedang makan. Karena itu akan menimbulkan rasa tidak enak kepada orang lain, berdosa lho .... 
  •  tidak melakukan sesuatu yang dalam pandangan orang lain terasa menjijikan. Kita aja ga mau kan kalo sedang makan tiba-tiba teman kita melakukan hal yang membuat nafsu makan kita hilang? 
  • Jika makan dengan orang miskin, maka hendaknya mendahulukan mereka.

“jadi begitu pik adab rasul ketika makan, jadi makanan yang kita makan jadi baik dan kita ga ditemenin setan.. oce!!” jelasku...

_afifah_

Rabu, 28 Desember 2011

saat sang imam datang padaku


Aku tak tahu dari mana ini berasal.
Dan akupun tak tau dari mana aku mulai menjelaskannya.
Mulai dari hari itu aku mengenalmu.
Mulai dari hari itu aku memintamu padaNya.
Entah kekuatan apa yang membuat aku terus berfikir tentangmu.
Dalam batasan hijab ini, ku memendam rasa.
Karena ku rasa belum saatnya untuk dikatakan.
Jika aku melihatmu, terasa aliran listrik menghantuiku.
Namun, apa yang bisa aku lakukan?
Dan dalam penantian yang panjang, Dia menghadirkanmu ke hadapanku.
Selama ini, aku tak beristikharah untukmu.
Karena itu menandakan bahwa ada pilihan lain selain engkau.
Namun aku berhajat padaNya.
Karena hanya kau yang aku inginkan.
Kini, ku merasa tenang disampingmu.
Aku dapat mengusap peluh usahamu.
Aku bisa melihat wajah tampan rupawan berbaring lelap di pangkuanku.
Hanya kepadamu imamku, dan hanya untukmu.

Selasa, 08 November 2011

gadis peyek...


Banyak orang yang bilang kalo “hidup susah banget yaa,,..”,
tapi banyak juga kok kalo yang bilang kalo “enjoy aja sih jalanin hidup mah.. jangan diambil pusing”.
Bagi ku sendiri, hidup itu adalah sebuah pilihan antara baik dan buruk.
Walaupun sebenarnya jalan hidup kita ya emang udah ditentuin dari sananya.
Hari ini langit lagi mendung. 
Ga tau deh udah berapa lama kota tangerang ga diguyur hujan. 
Gara-gara hujan ga turun-turun, banyak orang-orang ngelakuin segala cara buat “manggil” hujan. 
Ada yang shalat istisqa, bahkan ada juga yang ngelakuin ritual bakar menyan cuma buat manggil hujan. 
Tapi yang pasti, hujan itu berkah, dalam hatiku sendiri aku udah janji ga akan pernah menyesali datangnya hujan, karena waktu itu sempet ditegur sama anton (temen les waktu sma) gara-gara cuma ngomong : “yaaaahh.... ujan ton!!”. Langsung aja kepal aku sampe di toyor sama dia.. “hush, hujan itu berkah tau..”. ooo, jadi dari situ aku tau kalo sebenarnya hujan adalah sebuah keberkahan.
Benar saja, akhirnya gerimis kecil, lalu hujan lebat turun menyapu halaman rumah ku. 
Aku masih berdiri di depan jendela, entah keindahan apa yang sedang aku nikmati saat hujan turun. 
Aku masih terpaku sampai ibu memanggil ku..
“yung.......”. buyar semua rasanya keindahan itu, aku menghampiri ibu di dapur. 
Ternyata peyek sudah matang semua. 
Tugasku untuk membungkus rapih peyek itu ke dalam kantong plastik kecil, lalu memasukkannya ke dus besar. 
Lalu aku juga yang mengantar ke toko. Biasanya dengan bapa aku pergi mengantar peyek, naik beat merah.
Selesai sudah semua peyek rapih di tempatnya. Sekarang yang ada difikiranku adalah bagaimana caranya membawa kardus besar peyek ini tanpa membuatnya basah terkena hujan?? 
Ga bisa berfikir saat ini. 
Kacau rasanya. Azan ashar ternyata sudah berkumandang, segera aku shalat berjamaah di rumah. Dan jujur saja dalam shalat itu hanya hujan dan peyek yang kufikirkan. 
Setelah shalat aku menengok ke belakang, melihat dus besar itu. Hufht....
Pakaianku sudah rapih setelah shalat asar, bapa juga begitu. Hujan berhenti juga akhirnya. Bergegas bapa mengeluarkan beat merah dari rumah. 
Hanya berbekal helm, tanpa jaket aku pergi dengan motor. 
Ibu hanya memberikan plastik besar, mungkin maksudnya untuk jas hujan aku dan bapa. 
Yasudah, kami berangkat. Jarak ke toko kira-kira 12 km, biasanya waktu yang diperlukan itu 30 menit. 
Sebelum berangkat mataku menatap langit disebelah utara, hitam, gelap, dan kesanalah aku dan bapa menuju.
Mungkin sebentar lagi hujan akan turun lagi, harus bergegas......
Benar saja, baru kira-kira melewati 2 gang dari rumah, hujan tanpa gerimis langsung jatuh. 
Serasa ditabrak hujan es batu!. Tanpa pikir panjang, deretan ruko yang tutup menjadi tempat persinggahan sementara aku dan bapa. 
Aku masih memegang erat dus besar peyek itu, berharap tidak basah dan aku tetap memeganya dengan tanganku yang bisa dibilang kurang gizi itu. 
Berat, kalau ditaruh dibawah pasti basah, dan pasti tak laku. 
10 menit seperti ini rasanya tanganku sudah mati rasa. 
Amat sangat berat, antara rasa sakit dan dingin menjadi satu. 
Di depan ku adalah jalan raya, banyak mobil yang berlalu lalang di depan ku. 
Awalnya biasa saja melihat mobil-mobil itu, namun entah mengapa lama-kelamaan air mataku menetes.
Andaikan ku bisa punya satu mobil saja, rasanya mengantar peyek ke toko adalah hal yang mudah. Tidak kepanasan, dan yang pasti tidak kehujanan. 
Namun, andaikan aku punya mobilpun pasti ibu tidak perlu lagi membuat peyek seperti ini, karena dapat dilihat bahwa mereka yang bermobil adalah orang yang berkecukupan. Hufht.......
Mulai gerimis kecil, bapa membuka lipatan plastik besar yang diberikan ibu tada saat dirumah. Ternyata plastik itu hanya cukup untuk satu orang. 
Dan hanya bapa dan dus peyek yang tertutupi plastik itu, sedangkan aku harus kehujanan kecil. Baru saja keluar pintu gerbang komplek, hujan deras turun kembali, kami pun meneduh kembali.
Kali ini aku benar-benar ingin menangis, kami berhenti di depan mini market. 
Bapa berfikiran untuk membeli jau hujan di mini market itu. 
Aku menunggu di luar, aku menangis, badan ku basah, dan sebagian dus peyek juga basah karena dus itu aku pangku dengan kondisi celanaku yang basah. “dusnya basah.. yaa allah.......”
Bapa keluar dengan membawa jas hujan yang cukup besar berwarna kuning. 
Aku sedikit lega.
Lalu kami melanjutkan perjalanan saat hujan mulai reda. 
Hujan masih mengguyur kota tangerang, aku masih kehujanan. 
Di perjalanan, kami lewat jalan raya tangerang yang penuh dengan mobil dan truk besar. 
Aku tak tahu bahwa disebelah ada mobil yang akan menyalip motor kami, tanpa memperdulikan kami yang mengendarai motor, tanpa melihat kami yang susah payah membawa dus besar di motor, mobil itu tetap memacu kendaraannya dengan cepat dengan keadaan jalanan tergenang air. Sudah pasti kami terkena cipratan air hujan dari jalan.
Semakin basah celana yang aku gunakan, sungguh kesal telah sampai pada puncaknya. 
Aku hanya bisa menangis menahan rasa kesal ini. 
Sesaat aku mendengar bapa berkata “perjuangan kita ga akan sia-sia mba! Allah Maha Melihat”... aku tenang, dan aku juga teringat dengan perkataan Anton bahwa hujan adalah keberkahan. 
Air mataku berhenti, rasa kesal ku berubah menjadi rasa syukur.
Tak lama, kami sampai di toko, disana hujan sudah tak turun. 
Segera aku taruh dus peyek besar ini, aku bertemu petugas di toko itu. 
Dia kaget waktu melihat aku basah kuyup, segelas teh manis disuguhkan untuk aku dan bapa yang terlihat kedinginan. 
Petugas disini memang ramah-ramah. 
Sesaat, kami mulai untuk menghitung keuntungan minggu lalu. 
Alhamdulillah.... peyek minggu lalu habis terjual semua. Aku memegang uang penjualan peyek, dapat 250 ribu rupiah!
Saat pulang, hujan sudah tak turun lagi. 
Di perjalanan pulang, aku berpegangan erat ke bapa. 
Sejenak menyenderkan kepala ku, dalam hati aku berkata “ini keberkahan... benar, hujan adalah keberkahan....”

­_afifah_ n,n